
Film Ad Astra bukan tontonan luar angkasa biasa. Dirilis pada 2019 dan dibintangi Brad Pitt, film ini membawa pendekatan yang lebih realistis, sunyi, dan personal dibanding kebanyakan film sci-fi modern. Alih-alih menyuguhkan alien atau ledakan spektakuler tanpa henti, Ad Astra memilih jalur berbeda. Film ini fokus pada kesepian manusia, relasi ayah dan anak, serta dampak psikologis eksplorasi antariksa.
Sebagai media yang konsisten mengulas film dengan pendekatan mendalam, Updatefilm menilai Ad Astra sebagai salah satu film sci-fi paling berani dalam satu dekade terakhir. Keberaniannya bukan pada efek visual semata, melainkan pada cara film ini memotret emosi manusia dalam ruang hampa yang luas.
Latar Cerita dan Konsep Dasar Film Ad Astra
Ad Astra berlatar masa depan dekat, saat manusia telah menjelajah hingga ke Bulan dan Mars. Perjalanan antariksa tidak lagi terasa asing, tetapi sudah menjadi bagian dari sistem peradaban. Namun, ancaman besar muncul dari luar angkasa. Gelombang energi misterius menyerang Bumi dan mengancam kelangsungan hidup manusia.
Roy McBride, seorang insinyur dan astronot dengan tingkat kestabilan emosi sangat tinggi, mendapat misi rahasia. Ia harus melakukan perjalanan jauh ke tepi tata surya untuk mencari ayahnya, Clifford McBride, seorang astronaut legendaris yang telah lama dianggap hilang. Ayahnya diduga menjadi penyebab dari bencana energi yang mengancam Bumi.
Cerita ini terinspirasi dari berbagai misi nyata NASA, termasuk proyek pencarian kehidupan luar angkasa dan eksperimen jangka panjang di luar orbit Bumi. Film tidak mengarang dunia secara berlebihan. Hampir semua teknologi, prosedur misi, dan kondisi psikologis astronot didasarkan pada riset ilmiah dan laporan nyata.
Realisme Ilmiah dalam Ad Astra
Fisika dan Teknologi yang Masuk Akal
Salah satu kekuatan utama Ad Astra terletak pada pendekatan ilmiahnya. Film ini menggambarkan perjalanan luar angkasa dengan hukum fisika yang relatif akurat. Tidak ada suara ledakan di ruang hampa. Pergerakan pesawat mengikuti prinsip momentum. Bahkan komunikasi antarplanet digambarkan dengan jeda waktu yang masuk akal.
Beberapa adegan menampilkan rutinitas astronot secara detail. Prosedur keselamatan, pemeriksaan kesehatan mental, dan sistem navigasi diperlihatkan tanpa dramatisasi berlebihan. Hal ini membuat film terasa dekat dengan kenyataan, bukan fantasi.
Kesehatan Mental Astronot
Ad Astra juga menyoroti isu kesehatan mental dalam misi luar angkasa. Roy McBride harus menjalani evaluasi psikologis secara berkala. Detak jantung, ekspresi wajah, dan respons emosionalnya terus dipantau. Ini bukan fiksi. Dalam misi nyata, NASA dan badan antariksa lain memang menempatkan stabilitas mental sebagai faktor utama.
Kesepian, isolasi, dan jarak ekstrem dari Bumi digambarkan sebagai ancaman nyata. Film menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya ruang hampa, tetapi juga pikiran manusia sendiri.
Tema Kesepian sebagai Inti Cerita
Kesepian menjadi tema sentral dalam Ad Astra. Roy McBride adalah sosok yang tampak tenang, terkendali, dan profesional. Namun di balik itu, ia menyimpan trauma masa kecil akibat hubungan yang renggang dengan ayahnya. Misi ke luar angkasa berubah menjadi perjalanan batin yang menyakitkan.
Kesepian dalam film ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga emosional. Roy berada di antara manusia, tetapi merasa terpisah. Ia berkomunikasi melalui rekaman pesan, bukan percakapan langsung. Bahkan saat berada di Bumi, ia terasa asing.
Ad Astra menyampaikan pesan bahwa teknologi canggih tidak selalu mampu mengisi kekosongan emosional. Semakin jauh manusia melangkah ke luar angkasa, semakin besar risiko kehilangan koneksi dengan sesama.
Relasi Ayah dan Anak yang Kompleks
Hubungan Roy dan Clifford McBride menjadi poros utama cerita. Clifford adalah simbol ambisi manusia untuk menembus batas. Ia mengorbankan keluarga demi misi besar. Roy tumbuh dengan bayang-bayang ayah yang lebih mencintai bintang daripada rumah.
Film tidak menyederhanakan konflik ini. Clifford tidak digambarkan sebagai penjahat, tetapi sebagai manusia yang terobsesi. Roy juga tidak digambarkan sebagai korban semata, tetapi sebagai individu yang harus menghadapi kenyataan pahit.
Konflik ayah dan anak dalam Ad Astra terasa sangat manusiawi. Banyak penonton dapat merasakan jarak emosional yang sama, meskipun tidak pernah pergi ke luar angkasa.
Visual Sunyi dan Sinematografi
Secara visual, Ad Astra tampil elegan dan minimalis. Warna-warna dingin mendominasi. Ruang luas digambarkan dengan sudut kamera yang menekankan kesendirian karakter. Tidak banyak dialog panjang. Banyak adegan dibiarkan berbicara lewat gambar.
Brad Pitt memainkan peran Roy McBride dengan ekspresi yang tertahan. Narasi suara digunakan untuk menggambarkan isi pikirannya, tetapi tetap hemat. Pendekatan ini memperkuat suasana sunyi yang menjadi ciri khas film.
Adegan di Bulan, Mars, dan wilayah luar tata surya dirancang dengan gaya realistis. Tidak berlebihan, tetapi tetap megah.
Perbandingan dengan Film Sci-Fi Lain
Jika dibandingkan dengan Interstellar atau Gravity, Ad Astra berada di jalur berbeda. Interstellar menekankan emosi dan teori ilmiah kompleks. Gravity fokus pada survival intens. Ad Astra justru memilih kontemplasi.
Film ini lebih dekat dengan pendekatan klasik seperti 2001: A Space Odyssey, di mana ruang hampa menjadi metafora eksistensi manusia. Namun Ad Astra tetap relevan dengan isu modern, terutama kesehatan mental dan alienasi sosial.
Respons Netizen dan Penonton
Ad Astra menerima respons beragam. Netizen memuji keberanian narasi dan akurasi ilmiah. Banyak yang menyebut film ini sebagai sci-fi dewasa yang tidak mencari sensasi instan.
Namun sebagian penonton merasa film ini terlalu lambat dan minim aksi. Hal ini wajar, karena Ad Astra memang tidak dirancang untuk semua kalangan. Film ini menuntut kesabaran dan keterlibatan emosional.
Bagi penonton yang mencari makna dan refleksi, Ad Astra memberikan pengalaman yang mendalam.
Makna dan Pesan yang Disampaikan
Ad Astra menyampaikan pesan kuat tentang kemanusiaan. Film ini mempertanyakan tujuan eksplorasi luar angkasa. Apakah demi ilmu pengetahuan semata, atau untuk memahami diri sendiri.
Film juga menegaskan bahwa pencarian terbesar manusia bukanlah kehidupan di planet lain, melainkan hubungan yang bermakna di Bumi. Kesepian Roy berakhir bukan dengan penemuan besar di luar angkasa, tetapi dengan penerimaan dan rekonsiliasi batin.
Kesimpulan
Ad Astra adalah film sci-fi realistis yang berani menolak formula populer. Ia tidak menjual ketegangan instan, tetapi menawarkan refleksi mendalam tentang kesepian, hubungan keluarga, dan harga dari ambisi manusia.
Sebagai media yang konsisten mengulas film secara mendalam, Updatefilm menempatkan Ad Astra sebagai tontonan penting bagi penikmat sci-fi serius. Film ini membuktikan bahwa luar angkasa bukan hanya soal jarak dan teknologi, tetapi juga tentang emosi manusia yang rapuh.
Bagi kamu yang ingin memahami sisi lain film luar angkasa, Updatefilm merekomendasikan Ad Astra sebagai pilihan yang layak ditonton dan direnungkan.
