updatefilm.org – Pernahkah Anda membayangkan, apa yang terjadi setelah selamat dari mimpi buruk yang paling mengerikan sekalipun? Keluarga Rini dalam Pengabdi Setan 2: Communion mungkin bisa menjawabnya. Setelah berhasil lolos dari teror di rumah lama mereka, bayangan masa lalu ternyata belum sepenuhnya sirna. Mereka pindah, mencoba memulai lembaran baru, tetapi beberapa kegelapan memiliki cara khusus untuk terus mengikuti. Pengabdi Setan 2: Communion hadir bukan sekadar sekuel, melainkan perluasan jagat horor yang dibangun dengan apik oleh Joko Anwar.
Rumah susun kumuh di Jakarta Utara menjadi latar baru yang justru memunculkan pertanyaan: apakah berpindah tempat benar-benar bisa mengubah takdir? Film yang tayang pada 4 Agustus 2022 ini langsung mencetak rekor dengan 701.891 penonton di hari pertama dan total 6,3 juta penonton selama masa penayangannya. Angka ini menempatkannya sebagai salah satu film Indonesia terlaris sepanjang masa. Popularitas ini membuktikan bahwa horor garapan Joko Anwar memiliki daya tarik yang tak terbantahkan, bahkan mampu menggeser batas-batas genre horor di tanah air.
Namun, di balik gemerlap angka box office, film ini menyimpan lapisan cerita yang lebih kompleks dari sekadar adegan jump scare. Mari kita bedah lebih dalam Pengabdi Setan 2: Communion.

Dari Rumah Tua ke Rumah Susun: Menggali Latar dan Mistisisme Baru
Perpindahan latar dari rumah tua di perbukitan ke rumah susun di perkotaan bukanlah sekadar perubahan pemandangan. Joko Anwar secara cerdas memperluas medan horor melalui strategi ini. Pada film pertama, kita menghadapi isolasi pedesaan yang mencekam. Namun di sekuel ini, Joko Anwar menyuguhkan ironi kehidupan kota: penuh sesak, tetapi tetap sepi.
Rumah susun dalam Pengabdi Setan 2: Communion berfungsi sebagai metafora yang kuat. Pemerintah mengelola bangunan ini seharusnya sebagai tempat aman dan layak huni, tetapi justru berubah menjadi laboratorium teror. Gagasan bahwa rumah susun itu mungkin berdiri di atas pemakaman tua menambah lapisan “kutukan” yang tak terlihat. Ini mengingatkan kita pada ketakutan kolektif masyarakat perkotaan: kita mungkin tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di bawah fondasi tempat kita tinggal. Sebuah pengingat ringan bahwa keberadaan kita di ruang publik sering kali bersinggungan dengan sejarah kelam yang tidak terungkap.
Ketegangan visual pun kian terasa. Joko Anwar memutuskan menjadikan film ini sebagai film Indonesia pertama yang dirilis dalam format IMAX. Tata suara yang imersif dan sinematografi dari Ical Tanjung berhasil membuat setiap sudut gelap rumah susun terasa seperti sarang bahaya.
Bahri dan Koper Penuh Jari: Drama Keluarga yang Mencekam
Salah satu elemen paling kuat dalam Pengabdi Setan 2: Communion bukanlah kemunculan hantu, melainkan pembongkaran rahasia keluarga. Karakter Bahri (Bront Palarae) yang sebelumnya tampak sebagai ayah pelindung, berubah menjadi sosok ambigu saat Rini menemukan isi kopernya: puluhan jari manusia. Adegan ini mengubah persepsi penonton terhadap tokoh yang selama ini kita ikuti.
Pengungkapan bahwa Bahri harus membunuh 1.000 orang sebagai syarat keluar dari sekte menambah bobot psikologis yang mendalam. Ia bukan sekadar korban, tetapi juga pelaku yang rela melakukan kejahatan demi melindungi anak-anaknya. Ironi tragis inilah yang membuat Pengabdi Setan 2: Communion berbeda dari sekadar film horor pada umumnya.
Kematian Bahri yang mengenaskan—empat ekor kuda menyeretnya hingga tewas—menjadi klimaks dari konflik batin ini. Kita mungkin bertanya-tanya, apakah seseorang bisa dibenarkan melakukan kejahatan besar atas nama cinta? Joko Anwar dengan cerdik tidak memberikan jawaban mudah, membiarkan kita merenungkan dilema moral yang disajikan.
Kembalinya Ian: Misteri yang Tak Kunjung Usai
Kehadiran Ian, adik bungsu yang diculik di film pertama, menjadi salah satu pengungkap plot paling mengguncangkan. Di film ini, Ian muncul bukan sebagai korban, melainkan pemimpin ritual sekte yang dipimpin oleh sang ibu, Raminom. Plot twist ini berhasil mengejutkan banyak penonton dan membuka pertanyaan baru yang lebih besar.
Dari sinilah kita melihat bahwa film ini bekerja layaknya puzzle besar. Joko Anwar tidak memberi semua jawaban sekaligus. Ia memberi kita cukup informasi untuk membuat kita penasaran, tetapi tetap menyimpan kartu di dada untuk sekuel berikutnya. Hal ini memang menuai pro dan kontra. Banyak yang menilai bagian akhir terasa terlalu terburu-buru dan lebih seperti “jembatan” menuju film ketiga. Namun, bagi mereka yang menikmati bangunan dunia (world-building), ini adalah pengalaman yang memuaskan.
Analisis Visual dan Teknis: Standar Baru Horor Indonesia
Sinematografi dalam Pengabdi Setan 2: Communion layak mendapat apresiasi. Kesan visual yang jernih dan penggunaan pencahayaan yang cermat menampilkan kualitas yang setara dengan produksi Hollywood. Adegan kecelakaan lift di awal film menjadi contoh bagaimana Joko Anwar membangun ketegangan secara perlahan. Ia menggunakan kamera dan potongan gambar untuk menciptakan rasa cemas yang mendalam. Banyak penonton menyebut adegan Tari yang berdoa sebagai salah satu adegan paling mencekam dalam film horor Indonesia modern.
Keputusan Joko Anwar untuk menggunakan efek make-up praktikal daripada CGI berlebihan juga patut diacungi jempol. Ini memberikan sentuhan “nyata” pada sosok hantu dan pocong, mengembalikan esensi horor klasik yang mulai jarang kita temui. Musik score dari Aghi Narottama, Bembi Gusti, dan Tony Merle juga sukses menguatkan suasana mencekam, terutama dalam adegan-adegan hening yang justru paling menegangkan.
Teori dan Spekulasi: Batara dan Darminah
Salah satu elemen paling menarik yang masih menjadi perdebatan adalah sosok Batara (Fachri Albar) dan Darminah (Asmara Abigail). Keduanya bukan tokoh baru. Mereka muncul di akhir film pertama sebagai tetangga yang misterius. Di sekuel ini, Joko Anwar mengajak kita melihat lebih dalam, meski masih diselimuti teka-teki.
Foto di akhir film menunjukkan mereka menghadiri Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955, namun dengan wajah yang tak berubah di tahun 1984. Fakta ini memicu berbagai teori. Banyak yang menduga mereka bukan sekadar manusia, melainkan entitas yang lebih kuat, bahkan mungkin rival dari Raminom. Mereka mungkin saja pelayan dari iblis yang lebih besar atau pemimpin sekte lain yang bermain di level berbeda.
Dialog Darminah di akhir film yang mengatakan bahwa kejadian malam sebelumnya “sesuai rencana” menunjukkan bahwa keluarga Rini hanyalah bidak dalam permainan yang lebih besar. Ini meninggalkan kita dengan pertanyaan besar untuk Pengabdi Setan 3.
Penerimaan Penonton: Antara Pujian dan Kritik
Di balik kesuksesan komersialnya, Pengabdi Setan 2: Communion menerima beragam tanggapan. Banyak penonton memuji sisi teknis dan ambisiusnya untuk menjadi lebih besar, lebih berani, dan lebih brutal. Namun, tidak sedikit pula yang menyoroti kelemahan cerita.
Kritik lain menyebutkan bahwa film ini kehilangan esensi horor psikologis yang kuat dari film pertama dan terlalu bergantung pada jump scare. Namun, para pendukung film ini berpendapat bahwa Pengabdi Setan 2: Communion adalah sebuah tontonan yang menarik dan membuat kita tidak sabar menanti kelanjutan kisahnya.
Menanti Sekuel: Apakah Ada Pengabdi Setan 3?
Joko Anwar sendiri telah mengindikasikan rencana untuk kemungkinan installment ketiga. Banyak misteri yang belum terpecahkan: siapa sebenarnya Batara dan Darminah? Apa tujuan sebenarnya dari sekte Raminom? Dan akankah Rini dan keluarganya benar-benar bisa bebas?
Pertanyaan-pertanyaan ini membuat Pengabdi Setan 2: Communion terasa seperti jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa depan. Ini bukan sekadar film horor, tetapi sebuah serial epik yang membangun mitologi modern melalui pendekatan yang segar dan berani. Bagi penggemar horor Indonesia, ini adalah waktu yang menarik untuk merayakan bahwa genre kita sedang berada di jalur yang tepat.
Pengabdi Setan 2: Communion berhasil mengukuhkan posisi Joko Anwar sebagai arsitek horor Indonesia yang visioner. Meski punya celah dalam hal narasi, film ini adalah sebuah tontonan berkelas yang membanggakan. Pengabdi Setan 2: Communion adalah bukti bahwa horor Indonesia mampu bersaing di panggung internasional. Namun, setelah semua teror yang terjadi, apakah kita benar-benar siap untuk sekuel berikutnya?

Request Film Silahkan Hubungi Telegram Kami